Pemupukan dalam perkebunan teh adalah komponen biaya operasional yang memiliki besaran 40%-50% dari biaya operasi. Kandungan air tanah berguna sebagai referensi waktu, kapannya waktu optimal untuk melakukan pemupukan. Penelitian ini membuat sebuah sistem terintegrasi, komponen sistem ini adalah: Knowledge-Based System (KBS), Ground Penetrating Radar (GPR) sebagai metode untuk mengumpulkan data kandungan air tanah, yang mana sistem ini akan dibawa menggunakan drone, dan sebuah Information System Decision Support System (DSS) yang berguna untuk pemupukan secara akurat.


Sistem DSS diimplentasikan dalam bentuk website agriradar.farm, website ini berguna sebagai interface pengguna dalam melihat hasil kadar air tanah beserta dengan peta persebaran kandungan air tanah di setiap area. Selain itu, website ini juga memiliki fitur prediksi kebutuhan pupuk berdasarkan kandungan air tanah dan kandungan unsur hara daun.
Agriradar merupakan sistem pertanian presisi berbasis drone yang dilengkapi dengan kamera multispektral dan radar untuk memantau kandungan air tanah serta unsur hara pada daun dan tanah secara real-time. Sistem ini dirancang untuk membantu proses rekomendasi pemupukan presisi berdasarkan data lapangan yang akurat. Data yang dikumpulkan oleh drone kemudian dianalisis menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan ditampilkan melalui dashboard interaktif lengkap dengan sistem rekomendasi otomatis.
Sejak dikembangkan pada tahun 2019, Agriradar telah menjadi hasil kolaborasi strategis antara Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) dan CoE PUI-PT Intelligent Sensing–IoT Telkom University. Inovasi ini telah digunakan oleh berbagai klien besar seperti PTPN IV dan PT SSBP, membuktikan keandalannya dalam membantu efisiensi pengelolaan lahan dan peningkatan produktivitas pertanian.

Secara teknis, Agriradar memiliki dimensi 100 cm x 100 cm x 50 cm dengan berat sekitar 7 kg, dan 80 x 80 x 80 cm dengan berat 15 kg ketika disertai box pelindung. Desainnya memungkinkan mobilitas tinggi di lapangan sekaligus ketahanan terhadap kondisi lingkungan pertanian yang dinamis.
Kelebihan Agriradar dibandingkan dengan metode pengukuran kadar air konvensional
1. Memberikan rekomendasi pemupukan dengan memperhitungkan timeline, akurasi dosis, dan lokasi akurat di mana letak pemupukan.
2. Mempercepat pengumpulan data tanaman dan lahan yang dibutuhkan untuk pemupukan.
3. Mengurangi biaya analisa lab. Perhitungan dosis pupuk dapat dilakukan secara langsung, hal ini menyebabkan pengurangan biaya operasional.
4. Mendapatkan informasi secara real-time mengenai kandungan air tanah, nutrisi tanaman yang mana berguna untuk memfasilitasi proses pengambilan keputusan.

Sebagai hasil kolaborasi antara Research Institute of Sustainable Society (RISS) dan Center of Excellence (CoE) PUI-PT IS-IoT Universitas Telkom, Agriradar dikembangkan sebagai inovasi teknologi berbasis radar untuk mendukung pertanian presisi di Indonesia. Hasil pengembangan AgriRadar telah menarik perhatian publik dan media nasional berkat potensinya dalam mendorong transformasi digital sektor pertanian menuju ekosistem yang inklusif dan berkelanjutan.
Demonstrasi teknologi AgriRadar dapat disaksikan melalui tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=ezjr8Wd_GIc
Agriradar telah diliput oleh berbagai media nasional dan institusional, di antaranya:
- Telkom University – AgriRadar: Inovasi Pertanian Masa Depan
- Republika – Telkom University Hadirkan Enam Produk Inovasi di FEKDI 2023
- IS-IoT Telkom University – AgriRadar
- RRI – Telkom University Luncurkan AgriRadar
- Telkom University – The Grand Start of AgriRadar: Terobosan Inovatif untuk Masa Depan Perkebunan Indonesia yang Inklusi dan Berkelanjutan
- Kompasiana – The Grand Start of AgriRadar
- Koran Mandala – Telkom University Luncurkan AgriRadar, Inovasi Teknologi Pertanian untuk Efisiensi dan Keberlanjutan
- RRI Bandung – Telkom University Dukung Inovasi Sektor Pertanian melalui AgriRadar
- Dokumentasi Digital AgriRadar (Drive)

